Kamis, 22 Juli 2010

Sedekah membawa berkah

Saya tadinya adalah seorang guru di suatu yayasan pendidikan swasta menengah atas. Yayasan ini memberlakukan sistem kontrak yang akan diperbaharui setiap tahun. Artinya apabila kontrak kita diperpanjang, kita akan mendapat surat panggilan dan sebaliknya kita tidak akan dipanggil (diPeHaKa) apabila pihak yayasan tidak membutuhkan kita lagi.
Tahun ini, saya tidak dipanggil lagi untuk menjadi guru di sekolah tersebut, maka secara otomatis pemasukan keuangan keluarga jadi berkurang. Di saat yang sama suami saya yang bekerja nyambi kuliah, memerlukan uang yang cukup mengorek kantong untuk pembayaran spp, dsb. Sedangkan uang tabungan kami yang hanya sedikit, habis dipakai untuk kebutuhan sekolah anak-anak.
Situasi yang sulit ini tentu saja membuat saya dan suami bingung dan prihatin. Tapi sebagai orang yang beriman kami berusaha untuk tegar dan saling menguatkan. Semuanya kami pasrahkan kepada Allah SWT. Karena kami yakin ini adalah salah satu bentuk ujian darinya yang harus dilalui dengan shabar.
Hari itu, di forum pengajian yang biasa saya ikuti diadakan munashoroh (penggalangan dana) untuk membantu saudara kami yang jadi korban kebakaran. Semua hartanya habis terbakar. Tidak bersisa. Hati saya trenyuh, ternyata masih ada yang keadaannya lebih parah dari saya. Tapi saya hanya dapat menyumbang dalam bentuk barang layak pakai, bukan dalam bentuk uang seperti biasanya. Ah, tak apa yang penting kan ikhlasnya, pikir saya. Kenyataannya, sekarang ini hanya itu yang dapat saya lakukan. Memang tidak banyak, tapi insyaAllah berkah. Walaupun mengundang pertanyaan dari beberapa teman, saya hanya menjawab semuanya dengan senyuman. Saya malu menceritakan keadaan saya yang masih jauh lebih baik dari keadaan para korban kebakaran itu.
Selang beberapa hari dari kejadian itu, saya dikejutkan oleh ‘jalan keluar’ yang diberikan Allah SWT kepada keluarga saya. mendadak seorang teman lama mengajak berbisnis busana muslimah, modalnya dia semua yang menanggung. Saya terharu dan bersyukur. Belum habis rasa syukur saya, tiba-tiba suami mengabarkan bahwa beliau diajak rekannya untuk jadi agen sebuah perusahaan asuransi islami. Subhanallah walhamdulillah, semua itu sedikit banyak membantu income keluarga, suami saya dapat melunasi spp kuliahnya dan saya punya kesibukan baru yang tidak harus sering-sering keluar rumah sehingga tugas saya sebagai ibu rumah tangga tidak terganggu. Benarlah hadist rasulullah SAW, yang artinya : “Barangsiapa membantu memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah membantu kebutuhannya”. Wallahu’alam bisshowab.

Selasa, 04 Mei 2010

Etos kerja Muslim dan Dakwah


Islam sebagai dienul haq merupakan minhajul hayat (pedoman hidup) yang syamil (menyeluruh) bagi manusia. Konsepsi tersebut mengandung pengertian bahwa Islam sebagai dien yang sempurna, tidak memisahkan antara urusan dunia dengan urusan akhirat. Keduanya merupakan persoalan esensial yang harus dipahami oleh setiap mukmin, bahwa islam memandang dunia ini merupakan ladang untuk memasuki akhirat.Oleh sebab itu islam menyeru kepada ummatnya supaya bekerja keras, sebagaimana realisasi dari firman Allah SWT, dalam QS At-taubah : 105, yang artinya ;
“ Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu”
Islam melarang umatnya bermalas-malasan dan berpangku tangan. Setiap muslim harus meyakini bahwa iman akan terasa kelezatannya apabila secara aktual dimanifestasikan dalam bentuk amal sholeh.
Pengertian amal sholeh bukanlah hanya terbatas dalam soal-soal ritual ditempat-tempat tertentu saja, melainkan juga meliputi setiap aktifitas manusia dalam segala aspek kehidupan. Jadi bisa saja berbentuk pengabdian manusia kepada Allah SWT dalam ibadah ritual, bercocok tanam, bekerja di perusahaan, mengajar di sekolah, menjadi tenaga medis di rumah sakit, berjihad di medan perang dan sebagainya. Amal sholeh bukanlah lepas dari urusan-urusan duniawi. Amal sholeh berarti bergumul dalam kancah kehidupan disertai kewaspadaan hati agar tetap memilki iman, bergaul dengan sesama manusia dan memperhatikan apa yang mereka pikirkan dan kerjakan serta memperhatikan segala kebaikan yang hendak mereka gapai. Itulah aktifitas yang dianjurkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
Jadi, etos kerja muslim mutlak diperlukan agar tidak membiarkan mereka (kaum muslim) menjadi jumud dan statis sama sekali.
Secara lugas Etos Kerja muslim dapat didefenisikan sebagai norma atau cara seorang muslim dalam mempersepsikan aktifitasnya yang berisi dan mengandung semangat jihad, agar nilai pekerjaannya mempunyai makna dan dapat dilakukan dengan penauh kesungguhan.

Ciri-ciri seorang muslim yang mempunyai dan menghayati etos kerja, akan tampak dalam sikap dan tingkah lakunya yang dilandasi pada suatu keyakinan mendalam bahwa bekerja itu merupakan bentuk ibadah, suatu panggilan dan perintah Allah SWT yang akan memuliakan dirinya, memanusiakan dirinya sebagai bagian dari manusia pilihan (khoiru ummah). Ciri-ciri Etos kerja Muslim, diantaranya :
1. Memiliki jiwa kepemimpinan (leadership)
2. Selalu berhitung
3. Menghargai waktu
4. Tidak pernah merasa puas berbuat kebaikan
5. Selalu berhemat
6. Memiliki semangat wiraswasta yang tinggi
7. Semangat Bertanding
8. Memiliki motivasi untuk mandiri (independent)
9. Haus untuk memiliki keilmuan
10. Berwawasan makro – universal
11. Ulet, pantang menyerah

Dalam etos kerja muslim, maka setiap pribadi muslim dituntut untuk mempunyai identitas jihad yang dirumuskan dalam sikap dan tujuan hidup secara benar & proporsional, dg kriteria khusus, yaitu :
• Tujuan harus Realistis, artinya sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang kita miliki, agar tidak terperangkapke dalam satu rumusan yang terlalu ideal.
• Spesifik, artinya pernyataan atau rumusan tujuan harus mudah dipilah, tidak overlapping dan bersifat general.
• Chalenging & measurable, maksudnya bahwa tujuan yang ditetapkan harus dapat mendorong, memotivasi diri kita dan kalau perlu ada semacam tenaga ekstra untuk mencapai tujuan tertentu.
Contoh suatu rumusan tujuan yang Realistis, spesifik dan Chalenging/measurable :

“ Dalam waktu 1 pekan ke depan, tilawah Al-Qur’an saya harus mencapai 1 juz setiap harinya “

Selain itu ada beberapa karakteristik penting dalam Etos Kerja Pribadi muslim,yaitu:
1) Kesadaran antara Fikir dan dZikir.
2) Kualitas Renungan dan Kekuatan Bertanya
3) Faham terhadap Konsekuensi hidup
4) Mempunyai kekuatan dan Kemerdekaan
5) Memiliki landasan iman dan prestasi

Etos kerja pribadi muslim yang benar dan bersandarkan pada sumber Islam (Alqur’an dan Al-hadist) akan menghasilkan budaya masyarakat ke arah generasi ULIL-ALBAB, yang dapat mengaktualkan potensi luhur manusia, yaitu: Akal, Nafsu dan qolbu secara seimbang dan berupaya mengantisipasi akibat sampingan (spt: IPTEK) yang negatif dengan meningkatkan kualitas keislamannya.
Hal ini dimaksudkan agar umat islam disamping dapat mengikuti Kemajuan Zaman, juga dapat tetap Istiqomah dalam keislamannya, tidak terbawa oleh akibat sampingan dari kemajuan ILMU PENGETAHUAN dan TEKNOLOGI itu. Wallahua’lam bi showab.


sumber : - AL-Qur'anul Karim & terjemahan
- "ETOS KERJA PRIBADI MUSLIM", H. Toto Tasmara.
- "NILAI KERJA DALAM ISLAM", Izzuddin Al-khatib At-tamimi

Rabu, 14 April 2010

catatan Rina Syarif

GELANG UNTUK MAMA
14 maret 2010 jam 7:57

Bismillahirrahmanirrahiim,

Mata gadis kecil itu masih sembab, tangannya gemetaran mengunting kardus bekas. Sekali-kali gunting itu melukai jari-jari mungilnya, berdarah sedikit, ditahannya rasa sakit dan diteruskannya merangkai potongan-potongan kardus yg dibentuknya seperti hati kecil dgn seutas benang. Pintu kamarnya masih terkunci, dia dihukum selama 6 jam tidak boleh keluar kamar oleh ibunya karena tanpa sengaja menghilangkan butiran2 mutiara dari gelang kesayangan ibunya, Ia dimarahi habis-habisan karena bermain dengan perhiasan yg paling berharga.

Waktu hukuman pun telah habis, sang ibu membuka kunci kamar gadis kecilnya dan memekik kaget. Dilihatnya jari-jari mungil gadis kecilnya terluka. "mama, ini aku ganti gelang mama yg rusak, aku bikin kan gelang ini untuk gantinya," ucap suara mungil itu lirih, "jangan marah lagi ya, ma.." Tidak kuat sang ibu menahan tumpahan airmata, "jadi 6 jam kamu dihukum, kamu bikinkan ini untuk mama..?". TImbul penyesalan teramat dalam dari hati sang ibu. Namun penyesalan itu tiada guna, sang ibu telah terlanjur melukai hati gadis kecilnya, yg mungkin saja akan diingatnya terus sampai dewasa dan menjadi sebuah trauma masa lalu.

Sahabatku yg dirakhmati ALLAH Ta'Ala,
cerita diatas sebuah ilustrasi semata dan hanya cerita rekayasa. Intinya adalah terkadang kita sebagai orang tua, juga saya pribadi sering kali mengumbar amarah dan mengomel berlebihan untuk hal2 kecil yg dilakukan anak2 kita. Apalagi jika tanpa sengaja mereka menghilangkan atau merusak barang milik kita yg bernilai tinggi. Namun sahabatku, harta dunia itu tidak sebanding dengan "harta paling berharga" yaitu hati anak2 kita.

Hati kecil mereka begitu rapuh dan bening, pikiran mereka sangat mudah merekam semua kenangan/memory. Biasanya kenangan yg paling membahagiakan dan kenangan yg paling menyedihkan lah yg selalu tersimpan dalam file otak seseorang dan terbawa sampai dewasa. Bisa jadi kenangan2 itu berulang lagi pada saat mereka mendidik anak2 mereka kelak.

Sahabatku, inginkah kita diingat sebagai orangtua yg penyayang atau sebagai orang tua yg keras, egois dan jahat oleh anak-anak kita..? Tidak, kita jangan pula terlalu "lembek" dan memanjakan mereka dengan segala mainan mahal, kelak mereka tumbuh jadi anak2 yg tidak mandiri dan masih bergantung pada orang tuanya. Semua memang tergantung bagaimana pola kita dalam mendidik anak2.

Sahabatku ,sebagai seorang muslim, pola hidup kita berpegang pada Al Qur'an dan ajaran Rasulullah Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam. Termasuk dalam mendidik anak. Inginkah kita memiliki anak2 yg sholeh/ah dan dapat menyelamatkan kita dari jilatan api neraka jahannam..? Bukankah itu idaman setiap orang tua muslim ?. Marilah sahabatku, kita cari ilmu agama sebanyak2nya, kita kembali pada tuntunan Rasulullah Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam, agar selamat dunia dan akherat. Sahabatku, Ilmu itu seperti pelita, yg akan menerangi jalan kita. Jangan lupa pula untuk selalu berdoa pada Allah Subhana Hu Wa Ta'Ala, memohon kemudahan dan kelapangan.

LA HAWLA WA LA QUWWATTA ILLAHI BILLAHI... Tiada daya dan upaya kami tanpa pertolongan-Mu ya ALLAH, termasuk dlm mendidik anak, limpahkan kami dengan ilmu-Mu yg bermanfaat, kesabaran, kemudahan dan kelapangan dalam mendidik buah hati kami... Allohumma Sholi 'Ala Sayyidina Muhammad, amiin Allohumma amiin.



Semoga catatan sederhana ini, bisa menjadi renungan untuk saya pribadi dan para sahabat semua...


Wassalam,
Cibubur 14 Maret 2010


RINA SYARIF,
yg lemah dan miskin ilmu.

Kamis, 01 April 2010

catatan di hari lahir my soulmate

Hari ini, harusnya bikin yang special buatnya, tapi.. sepertinya dia menginginkan sebaliknya. Bahkan dari kemarin-kemarin dia sudah bilang gak usah masak macem-macem kalo Cuma buat ngerayain hari lahirnya.

“..gak usah lebay ah mi.., malahan prihatin dengan stok umur yg kian menipis”, mungkin itu yang ada dalam hatinya. Aku hanya menebak dari kesehariannya, tepatnya untuk beberapa hari ini. Dengan kesederhanaannya yang memang sudah menjadi karakter sejak aku mengenalnya lebih kurang 8 tahun yang silam, sekarang dia kelihatan matang dalam menjalani kehidupan. Terutama melakoni perannya sebagai kepala Rumah tangga.

Ah jadi flash back nich, saat kami ta’aruf dulu ada satu kata yang selalu kuingat, saat kutanyakan apa tujuan ‘menikah’ baginya. Dia menjawab dengan mantap, untuk “ibadah”. Jawaban yang selalu membuatku terharu sampai sekarang, sekaligus menjadi referensi kami dalam menjalani kehidupan berumahtangga. Juga dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan hidup lainnya. Yach, dari mana pun mulainya, perjalanan hidup memang tak akan pernah lepas dari cobaan. Bentuknya tidak seperti yang disadari banyak orang : derita, sedih dan sejenisnya. Karena sesuatu yang menyenangkan pun adalah ujian.

Namun, dibalik semua itu aku tetap yakin akan kasih sayang Allah SWT kepada hamba-hambaNYA yang istiqomah di jalan-NYA dan bersamamu, suamiku, aku percaya kita akan berlayar menuju jannah-NYA. Aamin Yba.

Met hari lahir, honey…

Rabu, 31 Maret 2010

BINGUNG.....

Selintas, saya jadi ingat bincang-bincang saya dengan suami tadi malam, tentang “kemana anak sulung saya hendak disekolahkan”.

Si Sulung, Aziz, tahun ini akan masuk Sekolah Dasar, Jenjang sekolah yang untuk sebagian ortu tidak terlalu menjadi pikiran yang ruwet alias memberatkan. Tapi bagi kami sebagai ortu yang tidak hanya ‘dunia oriented’ hal ini sangat perlu dipikirkan dengan matang. Dalam salah satu hadist Rasulullah SAW, dikatakan:

“..setiap anak dilahirkan dengan fitrah (suci), maka orangtuanyalah yang akan menjadikan dia seorang yahudi atau nasrani atau majusi…”

Anak ibarat secarik kertas putih pada awal nya. Adalah tanggung jawab orang tua untuk mengarahkan anaknya kemana. Apakah hanya ke arah dunia saja atau akhirat saja, atau kedua-duanya atau tidak kedua-duanya. Hasil dari itu semua insyaAllah akan terlihat saat anak tersebut dewasa dan ditampilkan dalam keseluruhan asfek kehidupannya. Baik asfek akalnya, akhlaknya maupun ruhaniahnya. Dan semua tampilan itu merupakan hasil dari (hampir sebagian besar) torehan pendidikan yang diarahkan ortunya. Jadi dapat disimpulkan anak adalah asset bagi orangtuanya, karena bagaimana ia nanti di masa depan adalah hasil orientasi ortunya dimasa kini.

Berangkat dari pemikiran tersebut, Kami sebagai ortu sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan untuk memasukkan ke sekolah yang dapat menjadi dasar (yang baik) untuk keseluruhan asfek diatas.

Sebenarnya sudah dari TKnya, Aziz dimasukkan ke TKIT, dengan pertimbangan disana akan terbentuk dasar-dasar keislaman sebagai karakter utama dan pertama baginya. Tapi menginjak ke usia SD, kami menjadi bingung. Betapa tidak, ternyata kita dihadapkan kepada Realita yang tidak mengenakkan hati. Yach, idealnya sih, kalo dari TKIT kan terusin aja ke SDIT, tapi ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan, saudaraku. Biaya ke SDIT yang sangat menguras kantong, untuk orang yang mapan tidak akan menjadi masalah, tapi bagi kita yang pas-pasan harus mengkaji ulang dan berfikir realistis. Karena kalaulah harus membobol tabungan atau ngutang sana-sini untuk memenuhi biaya SDIT yang membumbung, tentu bukanlah hal yang bijaksana. Tapi kalau untuk masuk ke sekolah umum, berarti harus punya konsekuensi yang tidak ringan. Kita harus bisa dan berusaha selalu menjaga dasar-dasar yang telah didapatnya di TKIT, misalnya hapalannya,dll. Untuk hapalannya aja, bagi ortu yang punya cita-cita agar anaknya jadi hafidz Qur’an di usia muda, kudu kerja keras kalo harus menyekolahkan anak di sekolah umum. Tapi, tidak ada hal yang tidak mungkin untuk dilaksanakan, asalkan sungguh-sungguh dan selalu mengharap ridho Allah SWT. Bukankah yang Allah SWT hargai dari kita adalah prosesnya, sedangkan hasilnya, DIA lah yang maha berkehendak dan mengetahui yang terbaik bagi hamba-NYA. Jadi pilihan yang mana pun yang kita ambil so Bismillah aja…wallahu a’lam bishowab.

Senin, 29 Maret 2010

PERBAIKI SUBUH KITA

“Siapa yang ingin berjihad di jalan Allah, saya tunggu di bukit ini ba’da subuh”

Kalimat di atas sangat melekat di benak saya, meski sudah lebih dua puluh tahun silam saya mendengarnya di sebuah film epik berjudul Cut Nyak Dien. Kisah kepahlawanan para pejuang Aceh yang gagah perkasa melawan penjajah Belanda ketika itu. Kalimat penuh semangat dan mengandung ruh jihad itu diucapkan oleh seorang panglima perang Aceh, Teuku Umar di hadapan para pejuangnya.


Bertahun-tahun saya sempat bertanya, “kenapa ba’da subuh?”


Kala itu, jawaban yang saya dapat sangat polos, lumayan masuk akal, namun cukup menggelikan kalau dipikir-pikir. “Orang-orang Belanda itu nggak sholat subuh, jadi kalau pasukan Aceh menyerbu ba’da subuh, pasukan Belanda masih tidur dan tidak siap menghadapi serangan”.


Seiring dengan waktu, saya mendapatkan jawaban yang mudah-mudahan lebih tepat untuk pertanyaan, “kenapa ba’da subuh?”


Diantara lima waktu sholat wajib, subuh dianggap paling berat meskipun jumlah rakaatnya paling sedikit. Bangun subuh, mendirikan sholat dan berjamaah di masjid adalah perjuangan berat bagi sebagian orang. Bangunnya saja perlu perjuangan, beberapa mata tak sanggup terbuka, sebagian bangun dengan bermalas-malasan, ada yang terbangun kemudian terlelap lagi, ada yang bergerak hanya untuk menarik selimut dan melanjutkan mimpi, dan ada pula yang sama sekali tak bergerak dan terus mendengkur.


Ada orang-orang yang memerlukan bantuan orang lain untuk bangun subuh. Kalau pun sudah bangun, ada yang menunda-nunda sholatnya. Ada pula berdiri sholat dalam keadaan malas, itu terlihat dari gerakan sholatnya yang terburu-buru atau dari sikap berdirinya yang tidak tegap. Dan ada loh yang sholat sambil matanya terpejam atau sholat sambil berkali-kali menguap.


Sampai disini sebenarnya sudah lumayan bagus, yang penting masih mau sholat subuh. Tetapi bagi orang-orang yang beriman, ketika adzan berkumandang ia semangat bergegas membasuh muka. Bahkan sebagian lainnya menyesal jika hanya terbangun pada saat adzan, sebab ia biasanya bangun di sepertiga malam dan tak tertidur lagi sampai waktu subuh. Orang-orang ini, rela mengorbankan kenikmatan tidurnya serta meminimalkan istirahatnya.


Kesungguhannya semakin teruji ketika ia memilih untuk membelah fajar, menerobos udara dingin menuju masjid untuk sholat berjamaah. Orang-orang yang bersungguh-sungguh diwaktu subuh inilah yang dipilih, seperti Muhammad yang terpilih untuk mengangkat Hajar Aswad karena tiba di Ka’bah lebih dulu.


Maka wajar jika Teuku Umar meminta para pejuangnya berkumpul persis ba’da subuh, karena ia hanya ingin berjuang bersama orang-orang yang memiliki semangat pengorbanan, yang jiwanya dipenuhi kesungguhan diatas rata-rata kebanyakan orang lainnya. Mereka yang tak bangun subuh, bukan saja tertinggal tak ikut berjuang, melainkan memang tak dibutuhkan sama sekali dalam perjuangan karena dianggap tak bersungguh-sungguh.


Semangat dan kesungguhan yang diperoleh dari kebiasaan sholat subuh, bisa kita terapkan dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan. Seberat apapun masalah, pasti ada jalan keluarnya. Masalahnya adalah, apakah kita memiliki semangat dan kesungguhan diatas rata-rata untuk mencari jalan keluarnya? Jika belum, mungkin ada baiknya kita mulai dengan sama-sama memperbaiki subuh kita. Mau? (gaw)

Minggu, 28 Maret 2010

pengalaman pribadi

KEJUTAN CERDAS SI KECIL

Setiap orang tua menginginkan/bangga bila memiliki anak-anak yang cerdas.Tidak saja cerdas secara IQ, tapi juga cerdas secara emosi (EQ) dan cerdas secara spiritual/keagamaan (SQ). Kecerdasan yang seimbang tersebut dapat dihasilkan dari berbagai faktor, selain faktor genetik dari orang tua, juga yang lebih penting adalah faktor Pola didik (Pola Asuh) dari orang tua disertai stimulasi-stimulasi yang dilakukan terus menerus dan bertahap sesuai dengan pertambahan usia mereka.

Sebagai orang tua yang mempunyai anak berusia balita, Saya bersama suami juga ikut memperhatikan masalah-masalah yang mempengaruhi tingkat kecerdasan anak. Ternyata Nutrisi, termasuk pola dan jenis makanan yang dikonsumsi anak, sedikit banyak ikut mempengaruhi kecerdasan anak. Untuk nutrisi tambahan mereka kami menggunakan susu Frisan Flag 123 dan 456.

Tiga orang putra kami, Aziz (5,5 th) sudah duduk di TK B, Azzam (4,5 th) sudah di TK A, dan Askar (1 th 7 bln) merupakan mutiara/harta yang tak ternilai bagi kami. Mereka adalah anak-anak yang aktif.

Aziz, anak yang pertama, sekarang sudah mulai manggunakan logika-logikanya, hal itu tidak hanya terlihat dari caranya dalam mengeja bacaan dan belajar berhitung yang relatif menggunakan otak kirinya, tapi juga sudah mulai mengasah daya imajinasinya dengan otak kanan. Ia pernah menceritakan khayalannya jika menjadi Dokter, pilot, ustadz, pemain bola, dan lain-lain. Stimulasi yang kami berikan untuk Aziz adalah dengan selalu menanyakan kepadanya apa-apa yang telah dilakukannya setiap hari. Misalnya : Kalo pulang dari sekolah atau dari bermain, kami selalu minta dia menceritakan kembali apa yang telah dilakukannya tadi (pengalamannya).

Banyak kejutan-kejutan dari Aziz setiap harinya, biasanya dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang agak membingungkan untuk menjawabnya. Pernah suatu saat Aziz menanyakan ‘Apakah semua hewan yang punya sayap bisa terbang tinggi atau terbang jauh dan disebut burung?’. Selagi kita masih bingung untuk menjawabnya, Aziz kembali meneruskan pertanyaan sesuai dengan pengamatannya “mengapa ayam tidak dapat terbang jauh-jauh dan kelelawar tidak disebut burung padahal dia bisa terbang…?”

Saat yang lain dia mendengar dan mulai mengerti konsep perbedaan laki-laki dan perempuan, tapi yang ditanyakannya sungguh diluar dugaan, setengah bergumam dia langsung bertanya “Hmm, kalo Tuhan itu laki-laki apa perempuan ya Mi..?”

Lain Aziz lain pula Azzam, Karena usianya tidak terpaut jauh dari Aziz, dia sekarang juga sudah sekolah di TK. Azzam sangat mudah bersosialisasi. Dia cepat akrab dengan orang yang baru dikenalnya. Daya ingatnya tinggi walaupun baru sekali dikasih tahu tentang suatu hal. Stimulasi yang kami berikan juga tdk jauh berbeda dengan Aziz, abangnya. Kami juga memberikan contoh langsung tentang nilai-nilai baik yang apabila kita lakukan akan membuat orang lain bahagia, misalnya bagaimana cara berbagi dengan orang lain, seperti berbagi bekal makanan dengan teman di sekolah, memberi uang/makanan kepada pengemis, dan sebagainya, sehingga rasa sosialnya bisa tergali sejak kecil. Dan hasilnya, alhamdulillah waktu penerimaan raport kemarin Azzam mendapat sertifikat dengan predikat “Anak Yang Dermawan”.

Seperti juga Aziz, banyak kejutan-kejutan dari Azzam yang tidak disangka-sangka. Sewaktu baru masuk sekolah TK, Azzam selalu diantar dan dijemput oleh Abinya. Tapi baru hari ke-lima dia sekolah, kami dirumah dikejutkan oleh telepon dari abinya yang mengabarkan bahwa nanda Azzam ‘tidak ada’ sewaktu dijemput di sekolahnya. Kontan saja itu membuat saya terkejut. Belum selesai terkejutnya tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara, “Assalamu’alaikum,Ummi…Azzam sudah pulang..”. O..oo rupanya Azzam sudah bisa pulang sendiri, padahal jarak dari sekolah ke rumah kira-kira 1000 m dengan beberapa kali belokan yang agak panjang, jarak yang cukup jauh untuk anak seumurnya. akhirnya “Alhamdulillah…” suara abinya lega sebelum gagang telepon ditutup.

Pertanyaan-pertanyaan Azzam juga kadangkala membuat kejutan yang menggelitik, Suatu hari Azzam bertanya, “Umi,apa benar Tuhan ada di atas..?” sambil tangannya menunjuk ke atas. Belum sempat saya menjawab (karena masih mikir-mikir jawaban apa yang pas buat anak seusianya), Azzam kembali menyambung “Kalo benar Tuhan ada di atas, ‘tar kalo naik pesawat ketabrak dong ama Tuhan..” Geeeeerrr…

Askar, putra ketiga kami, lucu, periang dan murah senyum, dia juga aktif dan cerdas seperti kedua kakaknya. Dengan Stimulasi terus menerus dan lebih terarah (karena sudah anak ketiga), terlihat perkembangannya rata-rata lebih cepat dari kedua kakak-kaknya. Kalau kakak-kakaknya baru bisa berjalan usia 1th lebih, tapi Askar usia 11 bulan sudah lancar berjalan. Dengan selalu melibatkannya dalam percakapan sehari-hari, menstimulasinya cepat dapat bicara, dan hasilnya di usia yang baru 1,5 tahun, sudah banyak sekali kosa katanya, bicaranya juga sudah bisa menyamai anak usia 3 tahun (kebetulan, anak tetangga kami ada beberapa orang yang usianya 3th, jd mudah mencari pembanding).

Dengan membiasakannya merunut segala sesuatu dari awal, menstimulasi daya ingatnya dan daya tangkapnya. Misalnya : Askar akan selalu ingat kejadian yang menyebabkan ia luka (karena terjatuh, terpeleset atau tersandung,dsb), lokasi kejadiannya (di halaman, di dapur atau dijalan, dsb), dan ia akan menceritakannya secara berurutan. Hasilnya daya tangkap dan daya ingatnya relatif tinggi, biasanya kalo baru diajarkan atau dikasih tahu sekali saja, dia langsung ingat. Askar juga cukup empati dengan orang-orang di sekelilingnya, Kalo ada yang menangis, dia akan segera mendekati dan mengusap kepala yang bersangkutan sambil mengucapkan “cayaaang….cayaaang…”

Kalo Hari jum’at, kakeknya mau pergi sholat jum’at di mesjid dekat rumah kami, Askar cepat-cepat mengambilkan tongkat untuk kakeknya berjalan, padahal tidak ada yang mengajarkan hal tersebut. Dan itu cukup membuat kakeknya yang sudah sepuh menjadi sangat senang.

Suatu hari saya sudah terlambat masuk kerja, saking buru-burunya saya tidak memperhatikan lagi kegiatan si kecil Askar. Tapi dia menarik-narik rok saya padahal saya sudah hampir siap, saya berbalik dan sedikit berteriak,

Ada apa sih Askar…., nanti Ummi telat nih..!”

Tiba-tiba, “u..Waaaaa…..!!!!!”, Askar langsung menangis karena kaget mendengar suara keras saya, benda yang dipegangnya ikut jatuh, Hah….Ternyata benda itu ….sepasang sepatu yang biasa saya pakai untuk kerja. Oo.. berarti tadi dia ingin memberikan sepatu untuk saya pakai. Saya menyesal sekali, bukannya berterima kasih karena sudah dibantu tapi malah membentak dengan keras. Langsung saya peluk dia untuk meredakan tangisnya. Maafkan Ummi, ya nak….

Kemampuan spiritual Askar juga mulai kami gali, dia dibiasakan untuk selalu berdo’a dalam memulai dan mengakhiri kegiatannya. Misalnya, waktu dia mau makan atau minum, baca do’a dulu. Baru-baru ini waktu mereka bertiga (Aziz, Azzam dan Askar) sudah dibuatkan susu FF masing-masing 1 gelas, terjadi hal yang menggelikan. Aziz dan Azzam langsung cepat-cepat mengambil gelasnya, waktu gelas-gelas mereka sudah di mulut, tiba-tiba Askar berteriak ke mereka,

“Abang….Kakak….O..’aa dulu..!” (Abang… kakak… berdoa dulu…!”) sambil kedua tangannya sudah dibuka layaknya orang mau berdo’a.

Wah, Aziz dan Azzam jadi malu nih, mereka letakkan kembali gelas susunya trus memulai do’a sama-sama Askar, baru kemudian minum susu bareng-bareng.

Begitulah, bila menceritakan kebersamaan kita dengan si kecil, rasanya tidak akan ada habis-habisnya, selalu saja ada kejutan-kejutan dari mereka setiap saat. Tapi kita patut bersyukur karena telah diberi amanah/tanggung jawab yang begitu besar untuk merawat dan membesarkan mereka. Bentuk syukur itu salah satunya adalah dengan memberikan yang terbaik untuk pertumbuhan dan perkembangan mereka.Wallahua’lam bisshowab.