Senin, 27 September 2010

(1001 Cerita Cinta Ibu dan anaknya)

EPISODE INDAH BERSAMA BUNDA

Bunda adalah orang yang pertama kali mengukir kenangan indah dalam hidupku. Penuh kasih sayang. Begitu lembut. Walaupun dalam kelembutannya, tersimpan ketegasan yang membuatku segan dan patuh padanya. Darinya aku belajar banyak hal tentang hidup dan kehidupan.

Seingatku, bunda adalah sosok yang sangat akrab sejak kecilku. Ada juga sih kakak-kakak yang memenuhi memoriku, mengingat aku adalah anak bontot dalam keluarga. Tapi peran mereka bagiku merupakan perpanjangan tangan dari peran bunda secara keseluruhan. Yah, karena kami ada enam bersaudara, jadi tidak mungkin bunda dapat mengawasi kami sekaligus seorang diri. Apalagi dengan peran ganda yang dilakoninya, karena selain sebagai ibu rumah tangga bunda juga punya warung kelontongan untuk menunjang ekonomi keluarga. Ups…cukup berat ternyata perjuangan bunda. Memang perjuangan itu dipikul bersama ayah juga. Tapi karena ayah yang pegawai kantoran,terlalu banyak di luar, maka belaian kasih sayangnya tidak terlalu membekas. Apalagi ayah lebih sering pulang dalam keadaan marah-marah (mungkin karena tugas kantor yang bikin stress atau apalah), sehingga kami, anak-anaknyanya tidak terlalu nyaman berdekatan dengan beliau. Malahan bagiku ayah adalah sosok yang asing dan terkesan menakutkan waktu itu. Baru setelah dewasa aku menyadari bahwa peran ayah dan bunda sama pentingnya, keduanya tak dapat tergantikan.Tanpa keduanya, aku tak mungkin bisa menjadi seperti sekarang. Ayah mengajarkan ketegasan dan kemandirian, sedang bunda mendidik dengan kelembutan dan kasih sayang.

Pada masa kecilku, hanya di dekat bundalah aku bisa merasakan kenyamanan. Aku selalu mengidolakan bunda. Bunda memberikan hampir semua hal yang kuinginkan. Dari Mainan, pakaian, dan barang-barang lain yang kubutuhkan, sampai hal-hal lain yang bukan dalam wajud materi, seperti motivasi, rambu-rambu kehidupan dan sebagainya. Tapi, dari sekian banyak hal yang ku dapatkan dari bunda sampai saat ini, baru kusadari bahwa masalah moral adalah hal utama yang ditekankan bunda pada kami,anak-anaknya, sejak awal. Misalnya sebagai seorang muslim, kita harus sholat 5 waktu sehari semalam, dan itu wajib bagi yang sudah baliq (berakal), dsb sampai kehal-hal yang prinsip misalnya: kita tidak boleh mengambil hak orang lain malahan harus menghormatinya. Termasuk masalah hutang, selalu bunda tanamkan agar jangan sampai lupa melunasinya.

Ada kisah yang tak terlupakan bersama bunda yang selalu menginspirasiku sampai sekarang. Hari itu, aku yang baru di tahun kedua sebuah SMAN, minta uang ke bunda untuk beli baju. Ada acara reuni teman-teman SMP. Saat itu, aku ngerasa sudah waktunya untuk beli baju baru, karena lebaran sebelumnya kulalui tanpa baju baru. Padahal sebenarnya lebaran itu adalah hari kemenangan bagi yang merayakannya, bukan identik dengan baju baru, itu sih kata bunda. aku sudah ngerayu bunda dari pagi, tapi sudah lepas dzuhur belum ada tanda-tanda bunda mengabulkan permintaanku. Dengan sabar menunggu bunda selesai sholat, kuulangi lagi permintaan itu, “boleh ya bun…?” dengan sedikit rengekan, sambil tanganku membantu melipat sejadah bunda. Bunda tersenyum dan segera membuka laci lemari, aku tau walaupun kami hidup dalam kesederhanaan tapi bunda selalu punya simpanan. Ini juga merupakan pelajaran yang bunda turunkan padaku nantinya. Dengan ceramah panjang Bunda memberikan uang kepadaku, wanti-wanti agar tidak terlalu boros membelanjakannya dan kalo ada lebihnya ditabung, bla bla bla. Aku mengiyakan semua perkataan bunda yang hanya sebagian terdengar, di pikiranku sekarang sudah tidak ke bunda lagi, sudah kubayangkan rencana beli baju yang sudah lama diimpikan. Setelah janjian dengan seorang teman, aku segera mandi dan siap-siap untuk pergi tapi tiba-tiba bunda mengetuk kamarku tergesa, dan begitu pintu terbuka ia langsung mengatakan hal yang tak bisa ku percaya, “ nak, bunda minta kembali uang tadi ya…kamu beli bajunya lain kali saja. Maafkan bunda ya..bunda lupa kalo uang itu untuk bayar hutang dan bunda sudah janji hari ini ngebayarnya….”. Hah??? Shock sekali mendengarnya. Dengan wajah mberengut kesal kuserahkan kembali uang yang sudah ditanganku. Hampir saja kubanting pintu kamar sebelum bunda berlalu dengan kata-kata manisnya. “Hutang kan harus dilunasi tepat waktu nak, insyaAllah kalo kamu ikhlas nanti akan dapat ganti yang lebih baik dari Allah SWT…”. Bah, kejamnya bunda.., jahatnya bunda… sesalku saat itu bersama lelehan air mata yang sudah meluncur di pipi, entah sejak kapan. Setelah membatalkan janji dengan teman, kukunci pintu yang tidak jadi kubanting, ingat bahwa surga di bawah telapak kaki ibu, tapi tak urung siang itu kulewatkan makan siang sebagai bentuk protesku.

Malamnya, bunda mengetuk pintu kamarku dengan lembut, awalnya tak ingin kubuka, tapi ingat durhaka bila tidak mengindahkan bunda, dengan malas akhirnya kubuka juga pintunya. Bunda masuk dengan membawa sepiring makan malam dan segelas air. So sweet…, tapi kusembunyikan rasa haru dalam diam. Bunda meletakkan piring nasi dan gelas di meja belajarku setelah kuisyaratkan ‘belum mau makan’. Lalu duduk disebelahku sambil berkata “masih marah sama bunda, nak..?” kegelengkan kepala sedikit. Seketika mengalir cerita bunda menjelaskan kejadian yang sebenarnya bahwa rekan usaha bunda yang menagih hutang tadi sedang dalam posisi yang tidak mengenakkan, terancam gulung tikar, sedangkan bunda tidak punya uang lebih selain yang ada tadi. Aku sedikit terhibur, tapi masih penasaran, kuberanikan tuk bertanya “tapi semua uang tadi hanya untuk bayar hutang ya bun…?” . Bunda tersenyum bijak “ tidak, nak memang tadi ada lebih sedikit dan kalo pun kamu pake untuk beli ‘satu baju baru’ masih cukup, tapi mereka butuh untuk pinjaman modal dan bunda berikan…insyaAllah bermanfaat”. Aku terenyuh, oh bunda sungguh mulia hatimu. “maafkan aku , bunda. Aku egois kalo harus marah kepadamu, bun”. Batinku. Biarlah reuni nanti kupakai baju yang lama, toh masih banyak yang layak kupakai untuk hari itu. Sedangkan rekan bunda tersebut.., sungguh mengenaskan, menurut bunda untuk sehari-hari saja mereka sangat susah. Masih banyak wejangan yang diberikan bunda malam itu, di kamarku, kali ini aku mendengarkan dengan seksama seolah takut ada pesan yang terlewatkan. Tentu saja sambil melahap makananku yang keburu dingin, tapi rasanya tetap enak, hehehe .. kelaparan, kan dari siang nggak makan. Aku hampir lupa dengan kejadian itu sampai sehari sebelum acara reuni dengan teman-temanku, datanglah paket khusus untukku dari kakak di Jakarta. Surprise, kubuka isinya ternyata dua pasang baju muslimah trendy yang sesuai ukuranku. Aku sungguh terharu, langsung kucari bunda dan memberitahukan hal itu.”Alhamdulillah…” ujarnya. “terima kasih Allah, terima kasih bunda..”. Aku tahu pastilah bunda yang menghubungi kakak di Jakarta dan menceritakan masalah ini, tak terasa air mataku menetes lagi. Syukurku kepada Allah SWT atas karunia seorang bunda yang penuh perhatian dan kasih sayang.

Sampai sekarang masih kuingat pesan bunda untuk tidak menunda hak orang lain (hutang, dsb) dan bila kita senang ‘memberi’ kepada orang lain, niscaya kita akan menerima apa-apa yang kita inginkan dari arah yang tidak kita sangka sebelumnya. Banyak sekali kenangan-kenangan indah bersama bunda yang penuh hikmah, rasanya tak habis-habis bila harus mengurainya satu persatu. Kini mutiara-mutiara hikmah itu akan kubagikan kepada buah hatiku yang belum sempat bertemu dengan bunda (nenek mereka), karena sebelum ku melangkah ke mahligai rumah tangga, bunda telah berpulang ke rahmatullah. Semoga Allah SWT berkenan menerima amal sholeh beliau, melapangkan alam kuburnya, dan marahmatinya senantiasa, amin yba.

Bagiku bunda adalah pahlawan dalam kehidupanku. Beliau telah meletakkan dasar-dasar moral yang begitu mencengkram kuat dan berakar dalam hatiku, kupatri teguh, lalu mengejawantah dalam setiap langkahku. Semasa hidupnya beliau bagaikan alarm bagiku yang dapat mendeteksi saat aku buat kesalahan. Hingga kini walupun telah tiada, ia seperti buku manual buatku, walupun bukan yang utama. Karena yang utama tentulah Al qur’an dan hadist. Pesannya tetap mendarah daging dalam ingatanku, kuhapal diluar kepala dan menjadi sikap serta arah dalam hidupku secara spontan, atau yang sering disebut orang sebagai ‘karakter positif’. Terima kasih bunda, atas segala cinta dan ajaran hidup yang telah kau berikan. Terimakasih yaa Rabb, atas penciptaanMu yang tiada sia-sia.

***************************



(Diedit ulang untuk memeriahkan LOMBA cinta seorang ibu di 13 tahun sulungnya yang sholeh dan jalan membentang menjadi pengusaha kaos anak sholeh)
Buruan ikutan yuuukkkkk, !!!!

Kamis, 22 Juli 2010

Sedekah membawa berkah

Saya tadinya adalah seorang guru di suatu yayasan pendidikan swasta menengah atas. Yayasan ini memberlakukan sistem kontrak yang akan diperbaharui setiap tahun. Artinya apabila kontrak kita diperpanjang, kita akan mendapat surat panggilan dan sebaliknya kita tidak akan dipanggil (diPeHaKa) apabila pihak yayasan tidak membutuhkan kita lagi.
Tahun ini, saya tidak dipanggil lagi untuk menjadi guru di sekolah tersebut, maka secara otomatis pemasukan keuangan keluarga jadi berkurang. Di saat yang sama suami saya yang bekerja nyambi kuliah, memerlukan uang yang cukup mengorek kantong untuk pembayaran spp, dsb. Sedangkan uang tabungan kami yang hanya sedikit, habis dipakai untuk kebutuhan sekolah anak-anak.
Situasi yang sulit ini tentu saja membuat saya dan suami bingung dan prihatin. Tapi sebagai orang yang beriman kami berusaha untuk tegar dan saling menguatkan. Semuanya kami pasrahkan kepada Allah SWT. Karena kami yakin ini adalah salah satu bentuk ujian darinya yang harus dilalui dengan shabar.
Hari itu, di forum pengajian yang biasa saya ikuti diadakan munashoroh (penggalangan dana) untuk membantu saudara kami yang jadi korban kebakaran. Semua hartanya habis terbakar. Tidak bersisa. Hati saya trenyuh, ternyata masih ada yang keadaannya lebih parah dari saya. Tapi saya hanya dapat menyumbang dalam bentuk barang layak pakai, bukan dalam bentuk uang seperti biasanya. Ah, tak apa yang penting kan ikhlasnya, pikir saya. Kenyataannya, sekarang ini hanya itu yang dapat saya lakukan. Memang tidak banyak, tapi insyaAllah berkah. Walaupun mengundang pertanyaan dari beberapa teman, saya hanya menjawab semuanya dengan senyuman. Saya malu menceritakan keadaan saya yang masih jauh lebih baik dari keadaan para korban kebakaran itu.
Selang beberapa hari dari kejadian itu, saya dikejutkan oleh ‘jalan keluar’ yang diberikan Allah SWT kepada keluarga saya. mendadak seorang teman lama mengajak berbisnis busana muslimah, modalnya dia semua yang menanggung. Saya terharu dan bersyukur. Belum habis rasa syukur saya, tiba-tiba suami mengabarkan bahwa beliau diajak rekannya untuk jadi agen sebuah perusahaan asuransi islami. Subhanallah walhamdulillah, semua itu sedikit banyak membantu income keluarga, suami saya dapat melunasi spp kuliahnya dan saya punya kesibukan baru yang tidak harus sering-sering keluar rumah sehingga tugas saya sebagai ibu rumah tangga tidak terganggu. Benarlah hadist rasulullah SAW, yang artinya : “Barangsiapa membantu memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah membantu kebutuhannya”. Wallahu’alam bisshowab.

Selasa, 04 Mei 2010

Etos kerja Muslim dan Dakwah


Islam sebagai dienul haq merupakan minhajul hayat (pedoman hidup) yang syamil (menyeluruh) bagi manusia. Konsepsi tersebut mengandung pengertian bahwa Islam sebagai dien yang sempurna, tidak memisahkan antara urusan dunia dengan urusan akhirat. Keduanya merupakan persoalan esensial yang harus dipahami oleh setiap mukmin, bahwa islam memandang dunia ini merupakan ladang untuk memasuki akhirat.Oleh sebab itu islam menyeru kepada ummatnya supaya bekerja keras, sebagaimana realisasi dari firman Allah SWT, dalam QS At-taubah : 105, yang artinya ;
“ Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu”
Islam melarang umatnya bermalas-malasan dan berpangku tangan. Setiap muslim harus meyakini bahwa iman akan terasa kelezatannya apabila secara aktual dimanifestasikan dalam bentuk amal sholeh.
Pengertian amal sholeh bukanlah hanya terbatas dalam soal-soal ritual ditempat-tempat tertentu saja, melainkan juga meliputi setiap aktifitas manusia dalam segala aspek kehidupan. Jadi bisa saja berbentuk pengabdian manusia kepada Allah SWT dalam ibadah ritual, bercocok tanam, bekerja di perusahaan, mengajar di sekolah, menjadi tenaga medis di rumah sakit, berjihad di medan perang dan sebagainya. Amal sholeh bukanlah lepas dari urusan-urusan duniawi. Amal sholeh berarti bergumul dalam kancah kehidupan disertai kewaspadaan hati agar tetap memilki iman, bergaul dengan sesama manusia dan memperhatikan apa yang mereka pikirkan dan kerjakan serta memperhatikan segala kebaikan yang hendak mereka gapai. Itulah aktifitas yang dianjurkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
Jadi, etos kerja muslim mutlak diperlukan agar tidak membiarkan mereka (kaum muslim) menjadi jumud dan statis sama sekali.
Secara lugas Etos Kerja muslim dapat didefenisikan sebagai norma atau cara seorang muslim dalam mempersepsikan aktifitasnya yang berisi dan mengandung semangat jihad, agar nilai pekerjaannya mempunyai makna dan dapat dilakukan dengan penauh kesungguhan.

Ciri-ciri seorang muslim yang mempunyai dan menghayati etos kerja, akan tampak dalam sikap dan tingkah lakunya yang dilandasi pada suatu keyakinan mendalam bahwa bekerja itu merupakan bentuk ibadah, suatu panggilan dan perintah Allah SWT yang akan memuliakan dirinya, memanusiakan dirinya sebagai bagian dari manusia pilihan (khoiru ummah). Ciri-ciri Etos kerja Muslim, diantaranya :
1. Memiliki jiwa kepemimpinan (leadership)
2. Selalu berhitung
3. Menghargai waktu
4. Tidak pernah merasa puas berbuat kebaikan
5. Selalu berhemat
6. Memiliki semangat wiraswasta yang tinggi
7. Semangat Bertanding
8. Memiliki motivasi untuk mandiri (independent)
9. Haus untuk memiliki keilmuan
10. Berwawasan makro – universal
11. Ulet, pantang menyerah

Dalam etos kerja muslim, maka setiap pribadi muslim dituntut untuk mempunyai identitas jihad yang dirumuskan dalam sikap dan tujuan hidup secara benar & proporsional, dg kriteria khusus, yaitu :
• Tujuan harus Realistis, artinya sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang kita miliki, agar tidak terperangkapke dalam satu rumusan yang terlalu ideal.
• Spesifik, artinya pernyataan atau rumusan tujuan harus mudah dipilah, tidak overlapping dan bersifat general.
• Chalenging & measurable, maksudnya bahwa tujuan yang ditetapkan harus dapat mendorong, memotivasi diri kita dan kalau perlu ada semacam tenaga ekstra untuk mencapai tujuan tertentu.
Contoh suatu rumusan tujuan yang Realistis, spesifik dan Chalenging/measurable :

“ Dalam waktu 1 pekan ke depan, tilawah Al-Qur’an saya harus mencapai 1 juz setiap harinya “

Selain itu ada beberapa karakteristik penting dalam Etos Kerja Pribadi muslim,yaitu:
1) Kesadaran antara Fikir dan dZikir.
2) Kualitas Renungan dan Kekuatan Bertanya
3) Faham terhadap Konsekuensi hidup
4) Mempunyai kekuatan dan Kemerdekaan
5) Memiliki landasan iman dan prestasi

Etos kerja pribadi muslim yang benar dan bersandarkan pada sumber Islam (Alqur’an dan Al-hadist) akan menghasilkan budaya masyarakat ke arah generasi ULIL-ALBAB, yang dapat mengaktualkan potensi luhur manusia, yaitu: Akal, Nafsu dan qolbu secara seimbang dan berupaya mengantisipasi akibat sampingan (spt: IPTEK) yang negatif dengan meningkatkan kualitas keislamannya.
Hal ini dimaksudkan agar umat islam disamping dapat mengikuti Kemajuan Zaman, juga dapat tetap Istiqomah dalam keislamannya, tidak terbawa oleh akibat sampingan dari kemajuan ILMU PENGETAHUAN dan TEKNOLOGI itu. Wallahua’lam bi showab.


sumber : - AL-Qur'anul Karim & terjemahan
- "ETOS KERJA PRIBADI MUSLIM", H. Toto Tasmara.
- "NILAI KERJA DALAM ISLAM", Izzuddin Al-khatib At-tamimi

Rabu, 14 April 2010

catatan Rina Syarif

GELANG UNTUK MAMA
14 maret 2010 jam 7:57

Bismillahirrahmanirrahiim,

Mata gadis kecil itu masih sembab, tangannya gemetaran mengunting kardus bekas. Sekali-kali gunting itu melukai jari-jari mungilnya, berdarah sedikit, ditahannya rasa sakit dan diteruskannya merangkai potongan-potongan kardus yg dibentuknya seperti hati kecil dgn seutas benang. Pintu kamarnya masih terkunci, dia dihukum selama 6 jam tidak boleh keluar kamar oleh ibunya karena tanpa sengaja menghilangkan butiran2 mutiara dari gelang kesayangan ibunya, Ia dimarahi habis-habisan karena bermain dengan perhiasan yg paling berharga.

Waktu hukuman pun telah habis, sang ibu membuka kunci kamar gadis kecilnya dan memekik kaget. Dilihatnya jari-jari mungil gadis kecilnya terluka. "mama, ini aku ganti gelang mama yg rusak, aku bikin kan gelang ini untuk gantinya," ucap suara mungil itu lirih, "jangan marah lagi ya, ma.." Tidak kuat sang ibu menahan tumpahan airmata, "jadi 6 jam kamu dihukum, kamu bikinkan ini untuk mama..?". TImbul penyesalan teramat dalam dari hati sang ibu. Namun penyesalan itu tiada guna, sang ibu telah terlanjur melukai hati gadis kecilnya, yg mungkin saja akan diingatnya terus sampai dewasa dan menjadi sebuah trauma masa lalu.

Sahabatku yg dirakhmati ALLAH Ta'Ala,
cerita diatas sebuah ilustrasi semata dan hanya cerita rekayasa. Intinya adalah terkadang kita sebagai orang tua, juga saya pribadi sering kali mengumbar amarah dan mengomel berlebihan untuk hal2 kecil yg dilakukan anak2 kita. Apalagi jika tanpa sengaja mereka menghilangkan atau merusak barang milik kita yg bernilai tinggi. Namun sahabatku, harta dunia itu tidak sebanding dengan "harta paling berharga" yaitu hati anak2 kita.

Hati kecil mereka begitu rapuh dan bening, pikiran mereka sangat mudah merekam semua kenangan/memory. Biasanya kenangan yg paling membahagiakan dan kenangan yg paling menyedihkan lah yg selalu tersimpan dalam file otak seseorang dan terbawa sampai dewasa. Bisa jadi kenangan2 itu berulang lagi pada saat mereka mendidik anak2 mereka kelak.

Sahabatku, inginkah kita diingat sebagai orangtua yg penyayang atau sebagai orang tua yg keras, egois dan jahat oleh anak-anak kita..? Tidak, kita jangan pula terlalu "lembek" dan memanjakan mereka dengan segala mainan mahal, kelak mereka tumbuh jadi anak2 yg tidak mandiri dan masih bergantung pada orang tuanya. Semua memang tergantung bagaimana pola kita dalam mendidik anak2.

Sahabatku ,sebagai seorang muslim, pola hidup kita berpegang pada Al Qur'an dan ajaran Rasulullah Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam. Termasuk dalam mendidik anak. Inginkah kita memiliki anak2 yg sholeh/ah dan dapat menyelamatkan kita dari jilatan api neraka jahannam..? Bukankah itu idaman setiap orang tua muslim ?. Marilah sahabatku, kita cari ilmu agama sebanyak2nya, kita kembali pada tuntunan Rasulullah Muhammad Salallahu 'Alaihi Wassalam, agar selamat dunia dan akherat. Sahabatku, Ilmu itu seperti pelita, yg akan menerangi jalan kita. Jangan lupa pula untuk selalu berdoa pada Allah Subhana Hu Wa Ta'Ala, memohon kemudahan dan kelapangan.

LA HAWLA WA LA QUWWATTA ILLAHI BILLAHI... Tiada daya dan upaya kami tanpa pertolongan-Mu ya ALLAH, termasuk dlm mendidik anak, limpahkan kami dengan ilmu-Mu yg bermanfaat, kesabaran, kemudahan dan kelapangan dalam mendidik buah hati kami... Allohumma Sholi 'Ala Sayyidina Muhammad, amiin Allohumma amiin.



Semoga catatan sederhana ini, bisa menjadi renungan untuk saya pribadi dan para sahabat semua...


Wassalam,
Cibubur 14 Maret 2010


RINA SYARIF,
yg lemah dan miskin ilmu.

Kamis, 01 April 2010

catatan di hari lahir my soulmate

Hari ini, harusnya bikin yang special buatnya, tapi.. sepertinya dia menginginkan sebaliknya. Bahkan dari kemarin-kemarin dia sudah bilang gak usah masak macem-macem kalo Cuma buat ngerayain hari lahirnya.

“..gak usah lebay ah mi.., malahan prihatin dengan stok umur yg kian menipis”, mungkin itu yang ada dalam hatinya. Aku hanya menebak dari kesehariannya, tepatnya untuk beberapa hari ini. Dengan kesederhanaannya yang memang sudah menjadi karakter sejak aku mengenalnya lebih kurang 8 tahun yang silam, sekarang dia kelihatan matang dalam menjalani kehidupan. Terutama melakoni perannya sebagai kepala Rumah tangga.

Ah jadi flash back nich, saat kami ta’aruf dulu ada satu kata yang selalu kuingat, saat kutanyakan apa tujuan ‘menikah’ baginya. Dia menjawab dengan mantap, untuk “ibadah”. Jawaban yang selalu membuatku terharu sampai sekarang, sekaligus menjadi referensi kami dalam menjalani kehidupan berumahtangga. Juga dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan hidup lainnya. Yach, dari mana pun mulainya, perjalanan hidup memang tak akan pernah lepas dari cobaan. Bentuknya tidak seperti yang disadari banyak orang : derita, sedih dan sejenisnya. Karena sesuatu yang menyenangkan pun adalah ujian.

Namun, dibalik semua itu aku tetap yakin akan kasih sayang Allah SWT kepada hamba-hambaNYA yang istiqomah di jalan-NYA dan bersamamu, suamiku, aku percaya kita akan berlayar menuju jannah-NYA. Aamin Yba.

Met hari lahir, honey…